ADAT DAN BUDAYA BATAK
Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang mempertahankan
kebudayaannya. Mereka memegang teguh tradisi dan adat. Sampai sekarang adat dan
budaya tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial orang Batak dan aktivitas
sehari-harinya.
Beberapa adat dan budaya Batak yang berlaku adalah :
1.
PARTUTURAN
Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturan) adalah kunci
dari falsafah hidupnya dengan menanyakan marga dari setiap orang Batak
yang ditemuinya. Hal ini dapat digambarkan dengan ukiran 2 ekor cicak
yang saling berhadapan yang menempel di kiri-kanan Ruma Batak.
Kekerabatan ini pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk
mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain
dengan baik.
partuturan
2. DALIHAN NATOLU
Kalau diartikan langsung “Dalihan”
adalah sebuah tungku yang terbuat dari batu. Jadi Dalihan Natolu artinya tungku
tempat memasak yang diletakkan di atas 3 (tiga) batu. Agar tungku
tersebut dapat berdiri dengan baik, maka ketiga batu sebagai penopang
haruslah berjarak seimbang satu sama lain dan tingginya juga harus sama. Hal
ini adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil
dalam kehidupan masyarakat Batak.
Ada 3 bagian kekerabatan dalam “Dalihan Natolu” yaitu :
1. Somba Marhulahula (Sembah/Hormat kepada keluarga pihak istri)
2. Elek Marboru (Sikap membujuk/mengayomi wanita)
3. Manat Mardongan Tubu (Bersikap hati-hati kepada teman semarga)
3. MANGULOSI
Mangulosi artinya adalah memberikan
ulos sebagai lambang kehangatan dan berkat bagi yang menerimanya. Dalam hal
Mangulosi ada aturan yang harus ditaati yakni : hanya orang
yang dituakan yang dapat memberikan ulos. Misal : orang tua mangulosi
anaknya, tetapi seorang anak tidak bisa mangulosi orangtuanya.
Mangulosi sering kita temukan pada saat-saat pesta antara lain :
– Ketika anak lahir , bayi akan menerima “Ulos Parompa”
– Pada saat anak laki-laki melaksanakan pesta pernikahan, dia akan menerima
“Ulos Hela” dari mertuanya.
– Pada saatnya meninggal dunia, akan menerima “Ulos Saput”.
mangulosi
4. UMPASA
Merupakan kata-kata yang diucapkan
seperti menyerupai pantun dalam bahasa Batak yang mempunyai makna. Umpasa
begitu penting diucapkan untuk menyampaikan keinginan/harapan dalam
setiap acara adat yang dilaksanakan. Apabila umpasa yang disebutkan juga
menjadi harapan dari para hadirin, maka secara serentak akan mengatakan “ima tutu”
yang artinya “semoga demikian”.
Contoh Umpasa untuk kawula muda:
“Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan
Jolo sinungkun marga asa binoto partuturan.”
5.
MANORTOR DAN MARGONDANG
Manortor adalah melakukan tarian seremonial yang disajikan dengan musik Gondang.
Tortor adalah seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama
dalam melakukan ritual keagamaan yang masih bernafaskan mistik
(kesurupan), namun sekarang ini manortor kerap dijumpai pada acara pesta-pesta
adat orang Batak dengan membunyikan musik Gondang Sabangunan (dengan
perangkat musik yang lengkap) yang pada jaman dahulu erat dengan pemujaan
kepada Dewa-Dewa atau roh-roh nenek moyang. Tortor dan musik gondang
adalah tidak terpisahkan.
Acara Batak
margondang
manortor-bersama-sigale-gale
6. MANGALAHAT HORBO
Mangalahat Horbo merupakan upacara adat bagi orang Batak sebagai pertanda penyucian diri atau menebus dosa-dosa , sehingga akan didapat kemakmuran dalam kehidupannya. Acara Mangalahat Horbo ini dilatarbelakangi kepercayaan suku Batak kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Sang pencipta alam semesta) yang mampu menghapus dosa dan memberi kemakmuran dengan mengurbankan seekor kerbau jantan yang diikatkan pada borotan (sebuah tiang di tengah upacara yang dihias berbagai jenis daun-daun pilihan).
7. MANGONGKAL HOLI
Merupakan suatu prosesi upacara yang dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang belulang dari jasad orang tua yang dimasukkan ke peti yang baru untuk dipindahkan pada suatu tempat yang telah disediakan oleh pihak keluarga. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang bertujuan memberikan penghormatan kepada roh orang tua yang telah tiada. Pemindahan lokasi tulang belulang dimaksud ke tempat yang baru adalah untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya.
mangokal-holi

Tujuh belas ribu lebih pulau di Indonesia, menyimpan keberagaman etnis, suku, bahasa dan kebudayaan yang sangat kaya. Salah satunya adalah Suku Batak yang berada di Provinsi Sumatera Utara.
Selama ini orang menilai Suku Batak identik dengan bersuara besar dan sikap blak-blak-kannya. Dan itu sering disalah-pahami melalui media film yang memuat salah satu karakternya bersuku Batak dan mendeskripsikannya dengan logat yang “kebatak-batakkan” padahal jatuhnya be lik dan sarat informasi juga.rlebihan.
Sebagai anak suku asli Batak yang tumbuh-besar dari lingkungan keluarga Batak, saya suka tertawa melihat film-film yang mencitrakan karakter Batak dengan porsi yang tidak sesuai. Sejatinya masih banyak keunikan serta hal-hal menarik dari kebudayaan suku Batak yang kalau dipikir-pikir lebih asyik untuk diku
1. Sama Seperti Suku Jawa, Batak juga memiliki Beberapa Sub Suku

Kalau Suku Jawa yang kita tahu sendiri juga beragam, dibedakan dari daerah asalnya, seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo dan Malang yang walaupun secara kesukuan sama tetapi memiliki perbedaan baik dari segi bahasa, kebiasaan maupun budaya. Demikian juga dengan suku Batak yang juga punya beberapa sub, yaitu Batak Toba, Batak Karo dan Batak Simalungun.
2. Menikah dengan Pariban (Sepupu)
Ada istilah dalam suku Batak, pariban (sepupu) adalah rokkap (jodoh). Sepupu disini bukan sembarang sepupu karena tidak semua sepupu bisa menikah. Sepupu yang dimaksud adalah, kalau Anda perempuan, Anda bisa menikah dengan anak laki-laki dari adik perempan ayah. Sedangkan kalau Anda laki-laki, Anda bisa menikah dengan anak perempuan dari adik laki-laki ibu.
3. Martarombo

Gitar Batak.
Orang Batak senang martarombo alias bertutur dan mencari-cari hubungan saudara satu dengan yang lainnya. Jadi, misalnya ketika bertemu dengan orang, hal yang biasa ditanyakan adalah marganya apa, kemudian akan selalu berusaha mencari hubungan pertalian dengan marganya sendiri. Yang terjadi adalah akan hampir selalu ada hubungan saudara bila sesama orang Batak bertemu.
4. Tuhor
Tuhor artinya uang untuk “membeli” perempuan ketika akan dilamar oleh laki-laki. Uang tuhor inilah nantinya yang akan menjadi biaya pernikahan, membeli kebaya pengantin perempuan, kebutuhan pernikahan lainnya, semua tergantung kesepakatan pihak keluarga laki-laki dan perempuan.
Besarnya tuhor tergantung tingkat pendidikan si perempuan, semakin tinggi pendidikannya ataupun posisi pekerjaannya maka semakin besarlah tuhor. Buat sebagian besar orang Batak yang masih memegang adat hal ini kerap tetap dilakukan. Namun buat orang Batak yang lebih moderat sudah tidak mempermasalahkan tuhor lagi. Kalau sama-sama holong (cinta) ya tidak perlu dipersulit.
5. Mandok Hata

Wine khas Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Artinya adalah bercakap-cakap menjelang tahun baru. Ini merupakan satu kebiasaan orang Batak. Biasanya dilakukan saat kumpul keluarga besar. Saling bercerita mengenai refleksi setahun yang lalu, saling meminta maaf kemudian merencanakan apa yang ingin dicapai di tahun yang akan datang. Biasanya dimulai dari orangtua baru ke anak yang paling kecil.
6. Tidak Boleh Menikah Satu Marga
Buat orang Batak, terlarang untuk menikah dengan yang satu marga dengannya ataupun tidak satu marga tapi masih saudara dalam silsilah. Jadi, dalam adat Batak beberapa marga masih dianggap sebagai satu silsilah sehingga dianggap sebagai saudara jadi tidak boleh menikah. Makanya, dalam setiap perkenalan selalu ditanyakan marga apa supaya jangan kekadung cinta eh terlarang karena marga.
7. Mangulosi
Ulos adalah kain tradisional dari Batak, sama seperti batik dari Jawa dan kain tenun NTT. Ada bermacam-macam jenis ulos, semua tergantung dengan fungsi pemakaiannya. Setiap upacara, baik itu pernikahan, kematian, memiliki penggunaan kain ulos yang berbeda pula. Bahkan tidak jarang menunjukkan strata seseorang dalam lingkungan sosial.
8. Konsep Rumah Batak

Rumah Batak. Foto oleh Ester Pandiangan
Rumah Batak memiliki konsep yang sangat unik dan mengandung makna yang tersirat dalam bentuk bangunannya. Konsep rumah panggung dengan pintu masuk yang rendah yang artinya adalah sebagai tamu selayaknya menghormati tuan rumah dan mengikuti aturan yang ada di dalam rumah tersebut.
9. Cicak dan Orang Batak
Cicak menjadi lambang untuk orang Batak. Layaknya cicak yang ada dimana-mana, mulai dari rumah dengan ukuran kecil, sedang, besar, di perkampungan maupun perkotaan demikianlah seharusnya orang Batak bisa beradaptasi dimanapun dia berada. Dan tidak hanya beradaptasi tapi juga bertahan hidup sekeras apapun permasalahan yang di hadapinya.
MENGENAL SUKU BATAK
Batak adalah sebutan untuk suku kebanyakan bermukim di Sumatra Utara. Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan Islam. Suku Batak sendiri adalah sebuah suku dengan kebudayaan yang meyakini seluruh nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak diwaktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya.
Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu ciri yang khas bagi suku bangsa Batak yakni keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi. Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yangselalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi spritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak.
Berikut adalah kekayaan yang dimiliki oleh kebudayaan Batak:
1. Rumah Adat
Teknologi pembuatan rumah sebagai suatu karya kebendaan masyarakat Batak terlihat dari desain rumah yang memiliki kolong dan bertangga. Rumah disebut juga jabu atau bagas. Rumah orang Batak melukiskan alam kosmos. Rumah bagian pertama disebut bara, tombara (kolong) rumah. Gunanya untuk kandang ternak, kerbau atau sapi. Ternak itu adalah sahabat manusia yang turut membantu usaha pertanian. Oleh sebab itu, mereka juga harus dilindungi.
2. Sistem Kepercayaan/Religi
Di daerah Batak terdapat beberapa agama, antara lain: agama Islam, agama Katolik, dan agama Kristen Protestan. Meskipun demikian, konsep-konsep kepercayaan atau religi purba masih hidup terutama di pedesaan. Sumber utama untuk mengetahui sistem kepercayaan dan religi purba ini adalah buku pustaka yang terbuat dari kayu dan ditulis dengan huruf Batak. Buku tersebut memuat konsep-konsep tentang pencipta, jiwa, roh, dan dunia akhirat.
3. Bahasa
Bahasa sangat penting artinya bagi suatu kelompok masyarakat, baik modern ataupun pra-modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi antar manusia, tetapi juga sebagai perekat persatuan antarwarga suatu komunitas dan simbol identitas bahasa yang membanggakan bagi pemiliknya. Demikian halnya dengan masyarakat Batak, menggunakan bahasa Batak dalam berinteraksi sosial yang menjadi ciri khas budaya mereka.
Bahasa khas yang sering diucapkan oleh orang-orang Batak adalah horas. Horas adalah kata salam masyarakat Batak yang berasal dari daerah Sumatera Utara, khususnya “Tapanuli”, yang selalu diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata horas salam khas yang lain, yaitu mejuah-juah dari daerah Karo, njuah-juah dari daerah Dairi, yahobu dari daerah Nias.
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah:
· Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo
· Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak
· Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun
· Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing
4. Organisasi Sosial
·
Sistem
Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Batak adalah patrilineal, yaitu menurut garis
keturunan ayah. Dalam berhubungan antara yang satu dengan yang lain pada
masyarakat Batak, mereka harus mampu menempatkan dirinya dalam struktur itu
sehingga mereka selalu dapat mencari kemungkinan hubungan kekerabatan di antara
sesamanya dengan cara martutur. Hubungan antara satu marga dengan marga lainnya
sangat erat, setelah terjadinya beberapa kelompok kecil yang diakibatkan sebuah
perkawinan.
·
Tarombo/Silsilah
Tarombo atau silsilah adalah marga dalam masyarakat Batak. Tarombo adalah
daftar asal-usul suatu keluarga). Dalam hal ini, hampir semua marga Batak telah
mempunyai tarombo secara tertulis, di dalamnya tercatat semua keturunan marga
yang bersangkutan. Kalaupun belum ada tarombo tertulis, setidaknya semua
keluarga dapat mengetahui nama nenek moyangnya turun temurun, kepada dirinya
sendiri. Orang Batak menggunakan kata marga untuk menunjukkan, baik
satuan-satuan yang lebih kecil maupun yang lebih besar, juga kelompok-kelompok
yang paling besar.
5. Pakaian dan Perhiasan
Sistem teknologi terdapat dalam sastra lisan walaupun tidak terlalu menonjol. sistem teknologi pada zaman dulu sudah ada, misalnya pakaian yang sudah berwarna. Pakaian dalam arti seluas-luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat penting bagi untuk semua suku bangsa di dunia. Bahan mentah pakaian dapat dikelaskan ke dalam : pakaian dari bahan tenun, pakaian dari kulit pohon dan pakaian dari kulit binatang dan lain-lain.
Asesoris bagi kaum perempuan Batak, benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang adalah symbol identitas budaya masyarakat Batak, di samping difungsikan sebagai benda untuk memepercantik kaum perempuan. Dalam bidang teknologi tradisional masyarakat Batak lainnya dalam benda budaya yang berupa pakaian tenun, meskipun produk itu masih sederhana.
6. Kesenian
Seni pada masyarakat Batak umumnya meliputi, seni sastra, seni musik, seni tari, seni bangunan, seni patung, dan seni kerajinan tangan. Terdapat beberapa seni masyarakat Batak, antara lain :
·
Margondang
Upacara margondang diadakan untuk menyambut kelahiran anak mereka dan sekaligus
mengumumkan kepada warga kampung bahwa dia sudah mempunyai anak. Margondang
merupakan suatu kebiasaan masyarakat Batak yang dilakukan dalam suatu upacara
tertentu. Tujuan filosofinya adalah untuk mengukuhkan muatan religi acara
tersebut karena merupakan kebiasaan yang diwarisi dari leluhur.
·
Manortor
Tortor adalah tarian Batak yang selalu diiringi dengan gondang(gendang). Tortor
pada dasarnya adalah ibadat keagamaan dan bersifat sakral,bukan semata-mata
seni.
·
Seni Patung
Di daerah Batak peninggalan-peninggalan kebudayaan megalitik sampai saat ini
masih banyak dijumpai, misalnya batu berdiri (menhir) dan batu-batu yang
disusun berupa mejan batu (dolmen) terletak dekat batu-batu kecil (kursi) yang
dipakai sebagai tempat pertemuan seperti di Ambarita (Samosir), dan
Sarcophagusatau keranda. Kursi batu menurut kepercayaan masyarakat, pada waktu
itu adalah tempat para arwah leluhur mereka, sebab ada penghormatan kepada
leluhur, oleh sebab itu mereka berhak duduk pada kursi-kursi tersebut.
7. Sistem pengetahuan
Sistem pengtahuan masyarakat Batak tampak pada perubahan-perubahan musim yang diakibatkan oleh siklus alam, misalnya musim hujan dan musim kemarau. Perubahan dua jenis musim tersebut dipelajari masyarakat Batak sebagai pengetahuan untuk keperluan bercocok tanam.
Suku Batak juga menguasai konsep pengetahuan yang berkaitan dengan jenis tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Pengetahuan tersebut sangat penting artinya dalam membantu memudahkan hidup mereka sehari-hari, seperti makan, minum, tidur, pengobatan, dan sebagainya. Jenis tumbuhan bambu misalnya dimanfaatkan suku masyarakat Batak untuk membuat tabung air, ranting-ranting kayu menjadi kayu bakar, sejenis batang kayu dimanfaatkan untuk membuat lesung dan alu, yang kegunaannya untuk menumbuk padi.
8. Mata Pencaharian
Sistem ekonomi atau sistem mata pencaharian yang dilakukan masyarakat Batak adalah bercocok tanam di sawah, ada juga yang di ladang seperti suku bangsa Karo, Simalungun, dan Pakpak. Masyarakat Batak mengenal sistem gotong-royong dalam bertani, dalam bahasa Karo disebut raren, sedangkan dalam bahasa Toba disebut marsiurupan. Gotong royong dilakukan dengan mengerjakan tanah secara bersama-sama oleh tetangga atau kerabat dekat. Alat yang digunakan untuk bercocok tanam, antara lain cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo, luku dalam bahasa Toba), dan tongkat tugal (engkol dalam bahasa Karo).
Bajak biasanya ditarik dengan sapi/kerbau, sabit (sabi-sabi dalam bahasa Toba) dipakai untuk memotong padi, ada juga yang memakai ani-ani. Peternakan yang diusahakan oleh masyarakat Batak, seperti kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Babi biasanya untuk dimakan dan juga digunakan dalam upacara adat. Di Pulau Samosir tepi Danau Toba, menangkap ikan dilakukan intensif dengan perahu lesung (Solu) dan hasilnya dijual ke kota.
Sejarah Suku Batak
Suku Batak ialah kelompok etnis tua di nusantara. Akan tetapi, karena keterbatasan catatan dan literatur menjadikan sejarahnya sulit untuk ditelusuri. Belum diketahui secara pasti kapan pertama kali nenek moyang orang Batak mulai mendiami wilayah Sumatera bagian Timur, yaitu Tapanuli.

Namun beberapa bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang Taiwan telah pindah ke Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun yang lalu, tepatnya pada zaman Neolitikum atau zaman batu muda. Akan tetapi karena tidak ada bukti yang ditemukan tentang keberadaan Suku Batak dari masa tersebut, maka disimpulkan bahwa nenek moyang Suku Batak datang dan pindah ke Tapanuli pada masa setelah itu, yaitu pada masa logam.
Sulitnya mencari bukti sejarah maka hingga kini masih ada perdebatan mengenai asal usul Suku Batak. Kemungkinan besar leluhur suku Batak berasal dari Pulau Formosa di Taiwan, namun bisa juga dari kawasan Indochina, Mongolia, atau Mizoram.
Mulai Dikenalnya Suku Batak di Nusantara
Etnis Batak merupakan gabungan dari beberapa suku yang ada di Sumatera Utara, identitas masyarakat asli setempat sebagai Suku Batak baru dikenal setelah tahun 1926, yaitu setelah dibentuknya organisasi bernama Jong Batak.
Organisasi ini merupakan kumpulan para pemuda asal Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak. Jong Batak dibentuk tanpa membeda-bedakan agama yang dianut.
Sebelumnya itu, di Sumatera Utara tidak terdapat sebuah kesatuan suku seperti ini. Hingga abad ke-19 hubungan yang terjalin antar sesama lebih kepada hubungan antar individu, serta ada pula hubungan antar kampung dan antar kekerabatan.
Masyarakatnya belum merasa perlu untuk terikat secara kelompok yang lebih besar. Banyak orang berasumsi, pendudukan kolonial di nusantara adalah alasan yang membuat masyarakat Sumatera Utara lebih memiliki rasa dan keinginan untuk bersatu.
Oleh karena itu, sangat menakjubkan bahwa saat ini Suku Batak dikenal sebagai salah satu etnis bangsa yang sangat kuat dan terjalin ikatan erat antara satu dengan yang lain.
Kepercayaan Suku Batak
Saat ini, mayoritas Suku Batak memeluk agama Kristen Protestan. Namun jauh sebelum mereka mengenal agama ini, orang-orang Batak menganut sistem kepercayaan tradisional. Mereka memiliki sosok yang dianggap sebagai dewa tertinggi, bernama Mulajadi na Bolon.

Dari kepercayaan tersebut, kemudian dikenal 3 konsep, yaitu:
1. Tendi
Tendi atau disebut dengan Tondi adalah roh atau jiwa seseorang bermakna kekuatan. Tendi memberi kekuatan pada manusia dan telah dimiliki seseorang sejak di dalam kandungan sang ibu. Jika Tendi meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut akan meninggal. Saat itulah harus diadakan upacara untuk menjemput Tendi atau upacara adat menjemput jiwa.
2. Sahala
Sahala adalah bentuk kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi tidak semua orang bisa memiliki Sahala. Sahal juga disebut dengan nama lain Sumanta. Sumanta merupakan kesaktian yang biasanya dimiliki oleh raja.
3. Begu
Begu adalah jiwa atau Tendi orang yang telah meninggal. Masyarakat Batak percaya bahwa Begu mempunyai tingkah laku dan kebiasaan seperti manusia, tetapi hanya muncul di malam hari.
Falsafah Hidup Orang Batak
Setiap suku pasti memiliki falsafah atau pandangan hidup untuk mengontrol perilaku setiap masyarakatnya agar tercipta sistem sosial yang baik. Sama halnya dengan etnis Batak, mereka dikenal memiliki beberapa nilai budaya, antara lain:
1. Hagabeon
Hagabeon bermakna harapan memiliki keturunan yang baik dan panjang umur. Jika berumur panjang, maka seseorang dapat menikahkan anak cucu mereka, sehingga bisa menyaksikan langsung anak cucunya tumbuh dan hidup dengan baik. Bagi Suku Batak memperoleh keturunan adalah keberhasilan dalam pernikahan.
Anak laki-laki dianggap sangat istimewa. Dalam adat kuno Batak bahkan ada aturan untuk memiliki anak sebanyak 33 dengan anak laki-laki berjumlah 17 orang dan anak perempuan sebanyak 16 orang. Namun seiring dengan perkembangan jaman, aturan ini pun tidak dipergunakan lagi.
Memiliki anak saat ini bukan tergantung dari kuantitas, namun kualitas. Memberikan pendidikan dan keterampilan yang baik pada anak dianggap lebih penting.
2. Uhum dan Ugari
Uhum berarti hukum, sementara Ugari berarti kebiasaan. Bagi masyarakat Batak, hukum harus ditegakkan dengan adil. Keadilan dapat terwujud jika masyarakat melakukan kebiasaan untuk tetap setia memegang janji.
Jika mengingkari sebuah kesepakatan, sesuai adat Batak di masa lalu maka orang tersebut akan menerima sanksi adat. Orang yang melanggar kesepakatan akan dianggap tercela. Oleh karena itu, Uhum dan Ugari sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak.
3. Hamoraon
Hamoraon adalah nilai budaya yang bermakna kehormatan. Kehormatan yang dimaksud adalah keseimbangan antara materiil dan spiritual. Seseorang harus memiliki kedua hal tersebut, misalnya kekayaan dan sikap baik hati terhadap sesama, barulah seseorang dianggap memiliki kehormatan yang sempurna. Jika hanya salah satu, maka tidak lengkap dan belum mencapai Hamoraan.
4. Pengayoman
Pengayoman mempunyai makna sebagai pelindung atau pengayom. Falsafah hidup pengayoman mengajarkan agar setiap individu bisa menjadi pengayom bagi orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat Batak diajarkan untuk tidak bergantung pada orang lain. Nilai ini mengajarkan bahwa orang Batak agar hidup mandiri dan tidak selalu mengandalkan orang lain.
5. Marsisarian
Marsisarian adalah nilai untuk menjaga keseimbangan hubungan antar manusia. Setiap manusia adalah individu yang berbeda, maka dalam kehidupan bermasyarakat, nilai Marsisarian sangat diperlukan agar umat manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis, meski terdapat banyak perbedaan di antara mereka.
Nilai Marsisarian mengajarkan masyarakat Batak untuk saling membantu, mengerti, dan menghargai. Dengan begitu maka mereka akan menghormati antar sesam, sehingga konflik pun dapat dihindari.
6. Kekerabatan
Nilai yang terakhir adalah salah satu ciri khas Suku Batak yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Saat ini, kita bisa melihat kekerabatan yang baik antar sub suku masyarakat Batak. Hubungan kekerabatan yang baik dapat diwujudkan melalui 3 hal, yaitu pertalian keluarga melalui pernikahan, tutur kata yang baik antar sesama, dan Martarombo.
Martarombo bermakna mencari saudara. Hal tersebut khususnya berlaku bagi Suku Batak yang sedang merantau. Biasanya mereka akan mencari sesama Suku Batak atau yang memiliki warga sama di tempat rantaunya. Tujuannya adalah agar tejalin hubungan antar marga yang baik walaupun mereka berada di perantauan.
Tradisi Suku Batak
Suku Batak memiliki banyak tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya. Tradisi budaya Batak yang tetap dilestarikan hingga kini antara lain:

1. Merantau
Tidak hanya menjadi kebiasaan masyarakat Suku Minangkabau, tradisi merantau juga dilakukan oleh Suku Batak. Merantau umumnya dilakukan oleh kaum pria yang hendak menginjak usia dewasa.
Para pria diharuskan meninggalkan tempat asalnya dan belajar bekerja serta hidup mandiri di tempat yang baru. Bahkan di masa lalu, mereka tidak diperbolehkan pulang sebelum sukses dan mengumpulkan banyak harta.
2. Kenduri Laut
Seusai dengan namanya, tradisi ini dilakukan di tepi laut. Biasanya dilakukan setiap bulan Oktober setiap tahunnya. Makna kenduri laut adalah sebagai ungkapan syukur akan hasil panen yang telah mereka dapatkan selama 1 tahun. Kenduri ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Batak di daerah Tapanuli Tengah pada malam hari hingga siang hari.
Marga Suku Batak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Suku Batak adalah salah satu suku bangsa terbesar dengan penyebaran terluas di Indonesia.
Seperti yang telah dibahas di awal, ada enam rumpun Suku Batak, yaitu Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Setiap rumpun suku tersebut terbagi menjadi beberapa marga yang menjadi identitas dan eksistensi dalam adat istiadat masyarakat Suku Batak.
Marga tersebut biasanya disematkan di belakang nama orang keturunan Batak. Berdasarkan data yang terhimpun, setidaknya ada 479 marga Batak yang telah tercatat, antara lain:
|
A |
|
1. AMBARITA |
|
2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA) |
|
3. AMPUN (NAHAMPUNGAN) |
|
4. ANGKAT |
|
5. ANGKAT SINGKAPAL |
|
6. ARITONANG |
|
7. ARUAN |
|
B |
|
8. BABIAT |
|
9. BAHO (NAIBAHO) |
|
10. BAKO |
|
11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN) |
|
12. BANJARNAHOR (MARBUN) |
|
13. BANCIN |
|
14. BAKKARA |
|
15. BARINGBING (TAMPUBOLON) |
|
16. BARUARA (TAMBUNAN) |
|
17. BARUTU (SITUMORANG) |
|
18. BARUTU (SINAGA) |
|
19. BATUARA (NAINGGOLAN) |
|
20. BATUBARA |
|
21. BERASA |
|
22. BARAMPU |
|
23. BARINGIN |
|
24. BINJORI |
|
25. BINTANG |
|
26. BOANGMANALU |
|
27. BOLIALA |
|
28. BONDAR |
|
29. BORBOR |
|
30. BUATON |
|
31. BUNUREA (BANUAREA) |
|
32. BUNJORI |
|
33. BUTARBUTAR |
|
D |
|
34. DABUTAR (SIDABUTAR) |
|
35. DAIRI (SIMANULLANG) |
|
36. DAIRI (SINAMBELA) |
|
37. DALIMUNTA (MUNTE) |
|
38. DAPARI |
|
39. DAULAE |
|
40. DEBATARAJA (SIMAMORA) |
|
41. DEBATARAJA (RAMBE) |
|
42. DOLOKSARIBU |
|
43. DONGORAN |
|
44. DOSI (PARDOSI) |
|
G |
|
45. GAJAA |
|
46. GAJADIRI |
|
47. GAJAMANIK |
|
48. GIRSANG |
|
49. GORAT |
|
50. GULTOM |
|
51. GURNING |
|
52. GUSAR |
|
H |
|
53. HABEAHAN |
|
54. HARAHAP |
|
55. HARIANJA |
|
56. HARO |
|
57. HAROHARO |
|
58. HASIBUAN |
|
59. HASUGIAN |
|
60. HUTABALIAN |
|
61. HUTABARAT |
|
62. HUTAJULU |
|
63. HUTAGALUNG |
|
64. HUTAGAOL (LONTUNG) |
|
65. HUTAGAOL (SUMBA) |
|
66. HUTAHAEAN |
|
67. HUTAPEA |
|
68. HUTASOIT |
|
69. HUTASUHUT |
|
70. HUTATORUAN |
|
71. HUTAURUK |
|
K |
|
72. KASOGIHAN |
|
73. KUDADIRI |
|
L |
|
74. LAMBE |
|
75. LIMBONG |
|
76. LINGGA |
|
77. LONTUNG |
|
78. LUBIS |
|
79. LUBIS HATONOPAN |
|
80. LUBIS SINGASORO |
|
81. LUMBANBATU |
|
82. LUMBANDOLOK |
|
83. LUMBANGAOL (MARBUN) |
|
84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN) |
|
85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG) |
|
86. LUMBANPANDE (SITUMORANG) |
|
87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN) |
|
88. LUMBANPEA (TAMBUNAN) |
|
89. LUMBANRAJA |
|
90. LUMBAN SIANTAR |
|
91. LUMBANTOBING |
|
92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO) |
|
93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING) |
|
94. LUMBANTUNGKUP |
|
M |
|
95. MAHA |
|
96. MAHABUNGA |
|
97. MAHARAJA |
|
98. MALAU |
|
99. MALIAM |
|
100. MANALU (TOGA SIMAMORA) |
|
101. MANALU-RAMBE |
|
102. MANALU (BOANG) |
|
103. MANIK |
|
104. MANIK URUK |
|
105. MANURUNG |
|
106. MARBUN |
|
107. MARBUN SEHUN |
|
108. MARDOSI |
|
109. MARPAUNG |
|
110. MARTUMPU |
|
111. MATANIARI |
|
112. MATONDANG |
|
113. MEHA |
|
114. MEKAMEKA |
|
115. MISMIS |
|
116. MUKUR |
|
117. MUNGKUR |
|
118. MUNTE (NAIMUNTE ?) |
|
N |
|
119. NABABAN |
|
120. NABUNGKE |
|
121. NADAPDAP |
|
122. NADEAK |
|
123. NAHAMPUN |
|
124. NAHULAE |
|
125. NAIBAHO |
|
126. NAIBORHU |
|
127. NAIMUNTE |
|
128. NAIPOSPOS |
|
129. NAINGGOLAN |
|
130. NAPITU |
|
131. NAPITUPULU |
|
132. NASUTION |
|
133. NASUTION BOTOTAN |
|
134. NASUTION LONCAT |
|
135. NASUTION TANGGA AMBENG |
|
136. NASUTION SIMANGGINTIR |
|
137. NASUTION MANGGIS |
|
138. NASUTION JORING |
|
O |
|
139. OMPUSUNGGU |
|
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT |
|
P |
|
141. PADANG (SITUMORANG0 |
|
142. PADANG (BATANGHARI0 |
|
143. PANGARAJI (TAMBUNAN) |
|
144. PAKPAHAN |
|
145. PAMAN |
|
146. PANDEURUK |
|
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE |
|
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG |
|
149. PANDIANAGN SITURANGKE |
|
150. PANJAITAN |
|
151. PANE |
|
152. PANGARIBUAN |
|
153. PANGGABEAN |
|
154. PANGKAR |
|
155. PAPAGA |
|
156. PARAPAT |
|
157. PARDABUAN |
|
158. PARDEDE |
|
159. PARDOSI-DAIRI |
|
160. PARDOSI (SIAGIAN) |
|
161. PARHUSIP |
|
162. PASARIBU |
|
163. PASE |
|
164. PASI |
|
165. PINAYUNGAN |
|
166. PINARIK |
|
167. PINTUBATU |
|
168. POHAN |
|
169. PORTI |
|
170. POSPOS |
|
171. PULUNGAN |
|
172. PURBA (TOGA SIMAMORA) |
|
173. PURBA (RAMBE) |
|
174. PUSUK |
|
R |
|
175. RAJAGUKGUK |
|
176. RAMBE-PURBA |
|
177. RAMBE-MANALU |
|
178. RAMBE-DEBATARAJA |
|
179. RANGKUTI-DANO |
|
180. RANGKUTI-PANE |
|
181. REA |
|
182. RIMOBUNGA |
|
183. RITONGA |
|
184. RUMAHOMBAR |
|
185. RUMAHORBO |
|
186. RUMAPEA |
|
187. RUMASINGAP |
|
188. RUMASONDI |
|
S |
|
189. SAGALA |
|
190. SAGALA-BANGUNREA |
|
191. SAGALA-HUTABAGAS |
|
192. SAGALA HUTAURAT |
|
193. SAING |
|
194. SAMBO |
|
195. SAMOSIR |
|
196. SAPA |
|
197. SARAGI (SAMOSIR) |
|
198. SARAGIH (SIMALUNGUN) |
|
199. SARAAN (SERAAN) |
|
200. SARUKSUK |
|
201. SARUMPAET |
|
202. SEUN (SEHUN) |
|
203. SIADARI |
|
204. SIAGIAN (SIREGAR) |
|
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA) |
|
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN) |
|
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL) |
|
208. SIAHAAN HINALANG |
|
209. SIAHAAN BALIGE |
|
210. SIAHAAN LUMBANGORAT |
|
211. SIAHAAN TARABUNGA |
|
212. SIAHAAN SIBUNTUON |
|
213. SIALLAGAN |
|
214. SIAMPAPAGA |
|
215. SIANIPAR |
|
216. SIANTURI |
|
217. SIBANGEBENGE |
|
218. SIBARANI |
|
219. SIBARINGBING |
|
220. SIBORO |
|
221. SIBORUTOROP |
|
222. SIBUEA |
|
223. SIBURIAN |
|
224. SIDABALOK |
|
225. SIDABANG |
|
226. SINABANG |
|
227. SIDEBANG |
|
228. SIDABARIBA |
|
229. SINABARIBA |
|
230. SIDABUNGKE |
|
231. SIDABUTAR (SARAGI) |
|
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN) |
|
233. SIDAHAPINTU |
|
234. SIDARI |
|
235. SIDAURUK |
|
236. SIJABAT |
|
237. SIGALINGGING |
|
238. SIGIRO |
|
239. SIHALOHO |
|
240. SIHITE |
|
241. SIHOMBING |
|
242. SIHOTANG |
|
243. SIKETANG |
|
244. SIJABAT |
|
245. SILABAN |
|
246. SILAE |
|
247. SILAEN |
|
248. SILALAHI |
|
249. SILALI |
|
250. SILEANG |
|
251. SILITONGA |
|
252. SILO |
|
253. SIMAIBANG |
|
254. SIMALANGO |
|
255. SIMAMORA |
|
256. SIMANDALAHI |
|
257. SIMANJORANG |
|
258. SIMANJUNTAK |
|
259. SIMANGUNSONG |
|
260. SIMANIHURUK |
|
261. SIMANULLANG |
|
262. SIMANUNGKALIT |
|
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR) |
|
264. SIMAREMARE |
|
265. SIMARGOLANG |
|
266. SIMARMATA |
|
267. SIMARSOIT |
|
268. SIMATUPANG |
|
269. SIMBIRING-MEHA |
|
270. SEMBIRING-MELIALA |
|
271. SIMBOLON |
|
272. SINABANG |
|
273. SINABARIBA |
|
274. SINAGA |
|
275. SIBAGARIANG |
|
276. SINAMBELA-HUMBANG |
|
277. SINAMBELA DAIRI |
|
278. SINAMO |
|
279. SINGKAPAL |
|
280. SINURAT |
|
281. SIPAHUTAR |
|
282. SIPAYUNG |
|
283. SIPANGKAR |
|
284. SIPANGPANG |
|
285. SIPARDABUAN |
|
286. SIRAIT |
|
287. SIRANDOS |
|
288. SIREGAR |
|
289. SIRINGKIRON |
|
290. SIRINGORINGO |
|
291. SIRUMAPEA |
|
292. SIRUMASONDI |
|
293. SITANGGANG |
|
294. SITANGGUBANG |
|
295. SITARIHORAN |
|
296. SITINDAON |
|
297. SITINJAK |
|
298. SITIO |
|
299. SITOGATOROP |
|
300. SITOHANG URUK |
|
301. SITOHANG TONGATONGA |
|
302. SITOHANG TORUAN |
|
303. SITOMPUL |
|
304. SITORANG (SITUMORANG) |
|
305. SITORBANDOLOK |
|
306. SITORUS |
|
307. SITUMEANG |
|
308. SITUMORANG-LUMBANPANDE |
|
309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR |
|
310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA |
|
311. SITUMORANG-SIRINGORINGO |
|
312. SITUMORANG-SITOHANG URUK |
|
313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA |
|
314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN |
|
315. SITUNGKIR |
|
316. SITURANGKE |
|
317. SOBU |
|
318. SOLIA |
|
319. SOLIN |
|
320. SORGANIMUSU |
|
321. SORMIN |
|
322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG |
|
323. SUHUTNIHUTA-SINAGA |
|
324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN |
|
325. SUMBA |
|
326. SUNGE |
|
327. SUNGGU |
|
T |
|
328. TAMBA |
|
329. TAMBAK |
|
330. TAMBUNAN BARUARA |
|
331. TAMBUNAN LUMBANGAOL |
|
332. TAMBUNAN LUMPANPEA |
|
333. TAMBUNAN PAGARAJI |
|
334. TAMBUNAN SUNGE |
|
335. TAMPUBOLON |
|
336. TAMPUBOLON BARIMBING |
|
337. TAMPUBOLON SILAEN |
|
338. TAKKAR |
|
339. TANJUNG |
|
340. TARIHORAN |
|
341. TENDANG |
|
342. TINAMBUNAN |
|
343. TINENDUNG |
|
344. TOGATOROP |
|
345. TOMOK |
|
346. TORBANDOLOK |
|
347. TUMANGGOR |
|
348. TURNIP |
|
349. TURUTAN |
|
Tj (C) |
|
350. TJAPA (CAPA) |
|
351. TJAMBO (CAMBO) |
|
352. TJIBERO (CIBERO) |
|
U |
|
353. UJUNG-RIMOBUNGA |
|
354. UJUNG-SARIBU |
|
KAROKARO |
|
355. KAROKARO BARUS |
|
356. KAROKARO BUKIT |
|
357. KAROKARO GURUSINGA |
|
358. KAROKARO JUNG |
|
359. KAROKARO KALOKO |
|
360. KAROKARO KACARIBU |
|
361. KAR0KARO KESOGIHAN |
|
362. KAROKARO KETAREN |
|
363. KAROKARO KODADIRI |
|
364. KAROKARO PURBA |
|
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya) |
|
366. KAROKARO SEKALI |
|
367. KAROKARO SIKEMIT |
|
368. KAROKARO SINABULAN |
|
369. KAROKARO SINUAJI |
|
370. KAROKARO SINUKABAN |
|
371. KAROKARO SINULINGGA |
|
372. KAROKARO SIMURA |
|
373. KAROKARO SITEPU |
|
374. KAROKARO SURBAKTI |
|
TARIGAN |
|
375. TARIGAN BANDANG |
|
376. TARIGAN GANAGANA |
|
377. TARIGAN GERNENG |
|
378. TARIGAN GIRSANG |
|
379. TARIGAN JAMPANG |
|
380. TARIGAN PURBA |
|
381. TARIGAN SILANGIT |
|
382. TARIGAN TAMBAK |
|
383. TARIGAN TAMBUN |
|
384. TARIGAN TAGUR |
|
385. TARIGAN TUA |
|
386. TARIGAN CIBERO |
|
PERANGINANGIN |
|
387. PERANGINANGIN-BENJERANG |
|
388. PERANGINANGIN BANGUN |
|
389. PERANGINANGIN KABAK |
|
390. PERANGINANGIN KACINABU |
|
391. PERANGINANGIN KELIAT |
|
392. PERANGINANGIN LAKSA |
|
393. PERANGINANGIN MANO |
|
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI |
|
395. PERANGINANGIN PANGGARUN |
|
396. PERANGINANGIN PENCAWAN |
|
397. PERANGINANGIN PARBESI |
|
398. PERANGINANGIN PERASIH |
|
399. PERANGINANGIN PINEM |
|
400. PERANGINANGIN SINUBAYANG |
|
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM |
|
402. PERANGINANGIN SINURAT |
|
403. PERANGINANGIN SUKATENDE |
|
404. PERANGINANGIN ULUJANDI |
|
405. PERANGINANGIN UWIR |
|
GINTING |
|
406. GINTING BAHO |
|
407. GINTING BERAS |
|
408. GINTING GURUPATIH |
|
409. GINTING JADIBATA |
|
410. GINTING JAWAK |
|
411. GINTING MANIK |
|
412. GINTING MUNTE |
|
413. GINTING PASE |
|
414. GINTING SIGARAMATA |
|
415. GINTING SARAGIH |
|
416. GINTING SINUSINGA |
|
417. GINTING SUGIHEN |
|
418. GINTING SINUSUKA |
|
419. GINTING TUMANGGER |
|
420. GINTING CAPA |
|
SEMBIRING |
|
421. SEMBIRING-BRAHMANA |
|
422. SEMBIRING BUNUHAJI |
|
423. SEMBIRING BUSUK (PU) |
|
424. SEMBIRING DEPARI |
|
425. SEMBIRING GALUK |
|
426. SEMBIRING GURU KINAYA |
|
427. SEMBIRING KELING |
|
428. SEMBIRING KELOKO |
|
429. SEMBIRING KEMBAREN |
|
430. SEMBIRING MELIALA |
|
431. SEMBIRING MUHAM |
|
432. SEMBIRING PANDEBAYANG |
|
433. SEMBIRING PANDIA |
|
434. SEMBIRING PELAWI |
|
435. SEMBIRING SINULAKI |
|
436. SEMBIRING SINUPAYUNG |
|
437. SEMBIRING SINUKAPAR |
|
438. SEMBIRING TAKANG |
|
439. SEMBIRING SOLIA |
|
SINAGA |
|
440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN |
|
441. SINAGA NADIHAYANGBODAT |
|
442. SINAGA SIDABARIBA |
|
443. SINAGA SIDAGURGUR |
|
444. SINAGA SIDAHAPINTU |
|
445. SINAGA SIDAHASUHUT |
|
446. SINAGA SIALLAGAN |
|
447. SINAGA PORTI |
|
DAMANIK |
|
448. DAMANIK-AMBARITA |
|
449. DAMANIK BARIBA |
|
450. DAMANIK GURNING |
|
451. DAMANIK MALAU |
|
452. DAMANIK TOMOK |
|
SARAGI |
|
453. SARAGIH-DJAWAK |
|
454. SARAGIH DAMUNTE |
|
455. SARAGIH DASALAK |
|
456. SARAGIH GARINGGING |
|
457. SARAGIH SIMARMATA |
|
458. SARAGIH SITANGGANG |
|
459. SARAGIH SUMBAYAK |
|
460. SARAGIH TURNIP |
|
PURBA |
|
461. PURBA BAWANG |
|
462. PURBA DAGAMBIR |
|
463. PURBA DASUHA |
|
464. PURBA GIRSANG |
|
465. PURBA PAKPAK |
|
466. PURBA SIIDADOLOK |
|
467. PURBA TAMBAK |
|
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK |
|
468. BARAT (SIAN HUTABARAT) |
|
469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING) |
|
470. BULUARA (MARINGANAN DI SINGKIL) |
|
471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL) |
|
472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL) |
|
473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN |
|
474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING) |
|
475. MELAYU (MARINGAN DI SINGKEL) SIAN MALAU |
|
476. NASUTION |
|
477. PALIS (MARINGAN DI SINGKILDOLOK) |
|
478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL) |
|
479. RANGKUTI |









