Luffy - One Piece

Sabtu, 05 Desember 2020

ADAT DAN BUDAYA BATAK
Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang mempertahankan kebudayaannya. Mereka memegang teguh tradisi dan adat. Sampai sekarang adat dan budaya tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial orang Batak dan aktivitas sehari-harinya.
Beberapa adat dan budaya Batak yang berlaku adalah :

1.      PARTUTURAN
Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturan) adalah kunci dari falsafah hidupnya dengan  menanyakan marga dari setiap orang Batak yang ditemuinya. Hal ini dapat digambarkan dengan ukiran 2 ekor  cicak  yang saling berhadapan yang menempel di kiri-kanan Ruma Batak. Kekerabatan ini pula yang menjadi  semacam tonggak  agung untuk mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain  dengan baik. 

partuturan

partuturan

2.      DALIHAN NATOLU

Kalau diartikan langsung “Dalihan” adalah sebuah tungku yang terbuat dari batu. Jadi Dalihan Natolu artinya tungku  tempat memasak yang diletakkan di atas 3 (tiga) batu. Agar tungku tersebut dapat berdiri dengan baik, maka ketiga batu  sebagai penopang haruslah berjarak seimbang satu sama lain dan tingginya juga harus sama. Hal ini adalah falsafah yang  dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Ada 3 bagian kekerabatan dalam “Dalihan Natolu” yaitu :
1. Somba Marhulahula (Sembah/Hormat kepada keluarga pihak istri)
2. Elek Marboru (Sikap membujuk/mengayomi wanita)
3. Manat Mardongan Tubu (Bersikap hati-hati kepada teman semarga)

dalihan na toludalihan na tolu

3.      MANGULOSI 

Mangulosi artinya adalah memberikan ulos sebagai lambang kehangatan dan berkat bagi yang menerimanya. Dalam hal      Mangulosi ada aturan yang harus ditaati yakni : hanya orang yang dituakan yang dapat memberikan ulos. Misal : orang tua  mangulosi anaknya, tetapi seorang anak tidak bisa mangulosi orangtuanya.
Mangulosi sering kita temukan pada saat-saat pesta antara lain :
– Ketika anak lahir , bayi akan menerima “Ulos Parompa”
– Pada saat anak laki-laki melaksanakan pesta pernikahan, dia akan menerima “Ulos Hela” dari mertuanya.
– Pada saatnya meninggal dunia, akan menerima “Ulos Saput”.

mangulosi

mangulosi

4.      UMPASA

Merupakan kata-kata yang diucapkan seperti menyerupai pantun dalam bahasa Batak yang mempunyai makna. Umpasa begitu  penting diucapkan untuk menyampaikan keinginan/harapan dalam setiap acara adat yang dilaksanakan. Apabila umpasa yang  disebutkan juga menjadi harapan dari para hadirin, maka secara serentak akan mengatakan “ima tutu” yang artinya “semoga  demikian”.
Contoh Umpasa untuk kawula muda:
“Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan
    Jolo sinungkun marga asa binoto partuturan.”

5.      MANORTOR DAN MARGONDANG 
Manortor adalah melakukan tarian seremonial yang disajikan dengan musik Gondang. Tortor adalah seni tari  Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama dalam melakukan ritual keagamaan yang masih  bernafaskan mistik (kesurupan), namun sekarang ini manortor kerap dijumpai pada acara pesta-pesta adat  orang Batak dengan membunyikan musik Gondang Sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap) yang  pada jaman dahulu erat dengan pemujaan kepada Dewa-Dewa atau roh-roh nenek moyang. Tortor dan musik  gondang adalah tidak terpisahkan.

Acara Batak

Acara Batak

margondang

margondang

manortor-bersama-sigale-gale

manortor-bersama-sigale-gale

6.       MANGALAHAT HORBO

Mangalahat Horbo merupakan upacara adat bagi orang Batak sebagai pertanda penyucian diri atau menebus  dosa-dosa , sehingga akan didapat kemakmuran dalam kehidupannya. Acara Mangalahat Horbo ini  dilatarbelakangi kepercayaan suku Batak kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Sang pencipta alam semesta) yang  mampu menghapus dosa dan memberi kemakmuran dengan mengurbankan seekor kerbau jantan yang  diikatkan pada borotan (sebuah tiang di tengah upacara yang dihias berbagai jenis daun-daun pilihan).

mangalahat horbomangalahat horbo

7.      MANGONGKAL HOLI

Merupakan suatu prosesi upacara yang dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang belulang dari jasad orang tua yang dimasukkan ke peti yang baru untuk dipindahkan pada suatu tempat yang telah disediakan oleh pihak keluarga. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang bertujuan memberikan penghormatan kepada roh orang tua yang telah tiada. Pemindahan lokasi tulang belulang dimaksud ke tempat yang baru adalah untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya.

mangokal-holihttps://visitsamosir.com/wp-content/uploads/2014/10/mangokal-holi-2-150x150.jpghttps://visitsamosir.com/wp-content/uploads/2014/10/FOTO-MANGOKAL-HOLI-2-150x150.jpg

mangokal-holi

 

 

 

 

https://phinemo.com/wp-content/uploads/2015/11/Salah-satu-tarian-Batak.jpg

Tujuh belas ribu lebih pulau di Indonesia, menyimpan keberagaman etnis, suku, bahasa dan kebudayaan yang sangat kaya. Salah satunya adalah Suku Batak yang berada di Provinsi Sumatera Utara.

Selama ini orang menilai Suku Batak identik dengan bersuara besar dan sikap blak-blak-kannya. Dan itu sering disalah-pahami melalui media film yang memuat salah satu karakternya bersuku Batak dan mendeskripsikannya dengan logat yang “kebatak-batakkan” padahal jatuhnya be lik dan sarat informasi juga.rlebihan.

Sebagai anak suku asli Batak yang tumbuh-besar dari lingkungan keluarga Batak, saya suka tertawa melihat film-film yang mencitrakan karakter Batak dengan porsi yang tidak sesuai. Sejatinya masih banyak keunikan serta hal-hal menarik dari kebudayaan suku Batak yang kalau dipikir-pikir lebih asyik untuk diku

 

1. Sama Seperti Suku Jawa, Batak juga memiliki Beberapa Sub Suku

kebudayaan suku batak

Kalau Suku Jawa yang kita tahu sendiri juga beragam, dibedakan dari daerah asalnya, seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo dan Malang yang walaupun secara kesukuan sama tetapi memiliki perbedaan baik dari segi bahasa, kebiasaan maupun budaya. Demikian juga dengan suku Batak yang juga punya beberapa sub, yaitu Batak Toba, Batak Karo dan Batak Simalungun.

 

2. Menikah dengan Pariban (Sepupu)

Ada istilah dalam suku Batak, pariban (sepupu) adalah rokkap (jodoh). Sepupu disini bukan sembarang sepupu karena tidak semua sepupu bisa menikah. Sepupu yang dimaksud adalah, kalau Anda perempuan, Anda bisa menikah dengan anak laki-laki dari adik perempan ayah. Sedangkan kalau Anda laki-laki, Anda bisa menikah dengan anak perempuan dari adik laki-laki ibu.

 

3. Martarombo

kebudayaan suku batak

Gitar Batak.

Orang Batak senang martarombo alias bertutur dan mencari-cari hubungan saudara satu dengan yang lainnya. Jadi, misalnya ketika bertemu dengan orang, hal yang biasa ditanyakan adalah marganya apa, kemudian akan selalu berusaha mencari hubungan pertalian dengan marganya sendiri. Yang terjadi adalah akan hampir selalu ada hubungan saudara bila sesama orang Batak bertemu.

 

4. Tuhor

Tuhor artinya uang untuk “membeli” perempuan ketika akan dilamar oleh laki-laki. Uang tuhor inilah nantinya yang akan menjadi biaya pernikahan, membeli kebaya pengantin perempuan, kebutuhan pernikahan lainnya, semua tergantung kesepakatan pihak keluarga laki-laki dan perempuan.

Besarnya tuhor tergantung tingkat pendidikan si perempuan, semakin tinggi pendidikannya ataupun posisi pekerjaannya maka semakin besarlah tuhor. Buat sebagian besar orang Batak yang masih memegang adat hal ini kerap tetap dilakukan. Namun buat orang Batak yang lebih moderat sudah tidak mempermasalahkan tuhor lagi. Kalau sama-sama holong (cinta) ya tidak perlu dipersulit.

5. Mandok Hata

kebudayaan suku batak

Wine khas Batak. Foto oleh Ester Pandiangan

Artinya adalah bercakap-cakap menjelang tahun baru. Ini merupakan satu kebiasaan orang Batak. Biasanya dilakukan saat kumpul keluarga besar. Saling bercerita mengenai refleksi setahun yang lalu, saling meminta maaf kemudian merencanakan apa yang ingin dicapai di tahun yang akan datang. Biasanya dimulai dari orangtua baru ke anak yang paling kecil.

 

6. Tidak Boleh Menikah Satu Marga

Buat orang Batak, terlarang untuk menikah dengan yang satu marga dengannya ataupun tidak satu marga tapi masih saudara dalam silsilah. Jadi, dalam adat Batak beberapa marga masih dianggap sebagai satu silsilah sehingga dianggap sebagai saudara jadi tidak boleh menikah. Makanya, dalam setiap perkenalan selalu ditanyakan marga apa supaya jangan kekadung cinta eh terlarang karena marga.

 

7. Mangulosi

Ulos adalah kain tradisional dari Batak, sama seperti batik dari Jawa dan kain tenun NTT. Ada bermacam-macam jenis ulos, semua tergantung dengan fungsi pemakaiannya. Setiap upacara, baik itu pernikahan, kematian,  memiliki penggunaan kain ulos yang berbeda pula. Bahkan tidak jarang menunjukkan strata seseorang dalam lingkungan sosial.

 

8. Konsep Rumah Batak

kebudayaan suku batak

Rumah Batak. Foto oleh Ester Pandiangan

Rumah Batak memiliki konsep yang sangat unik dan mengandung makna yang tersirat dalam bentuk bangunannya. Konsep rumah panggung dengan pintu masuk yang rendah yang artinya adalah sebagai tamu selayaknya menghormati tuan rumah dan mengikuti aturan yang ada di dalam rumah tersebut.

9. Cicak dan Orang Batak

Cicak menjadi lambang untuk orang Batak. Layaknya cicak yang ada dimana-mana, mulai dari rumah dengan ukuran kecil, sedang, besar, di perkampungan maupun perkotaan demikianlah seharusnya orang Batak bisa beradaptasi dimanapun dia berada. Dan tidak hanya beradaptasi tapi juga bertahan hidup sekeras apapun permasalahan yang di hadapinya.

 

 

MENGENAL SUKU BATAK

Batak adalah sebutan untuk suku  kebanyakan bermukim di Sumatra Utara. Mayoritas orang Batak beragama Kristen dan Islam. Suku Batak sendiri adalah sebuah suku dengan kebudayaan yang meyakini seluruh nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak diwaktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya.

Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu ciri yang khas bagi suku bangsa Batak yakni keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi. Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yangselalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi spritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak.

Berikut adalah kekayaan yang dimiliki oleh kebudayaan Batak:

1.      Rumah Adat 

Teknologi pembuatan rumah sebagai suatu karya kebendaan masyarakat Batak terlihat dari desain rumah yang memiliki kolong dan bertangga. Rumah disebut juga jabu atau bagas. Rumah orang Batak melukiskan alam kosmos. Rumah bagian pertama disebut bara, tombara (kolong) rumah. Gunanya untuk kandang ternak, kerbau atau sapi. Ternak itu adalah sahabat manusia yang turut membantu usaha pertanian. Oleh sebab itu, mereka juga harus dilindungi.

2.      Sistem Kepercayaan/Religi

Di daerah Batak terdapat beberapa agama, antara lain: agama Islam, agama Katolik, dan agama Kristen Protestan. Meskipun demikian, konsep-konsep kepercayaan atau religi purba masih hidup terutama di pedesaan. Sumber utama untuk mengetahui sistem kepercayaan dan religi purba ini adalah buku pustaka yang terbuat dari kayu dan ditulis dengan huruf Batak. Buku tersebut memuat konsep-konsep tentang pencipta, jiwa, roh, dan dunia akhirat.

3.      Bahasa 

Bahasa sangat penting artinya bagi suatu kelompok masyarakat, baik modern ataupun pra-modern. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi antar manusia, tetapi juga sebagai perekat persatuan antarwarga suatu komunitas dan simbol identitas bahasa yang membanggakan bagi pemiliknya. Demikian halnya dengan masyarakat Batak, menggunakan bahasa Batak dalam berinteraksi sosial yang menjadi ciri khas budaya mereka.

Bahasa khas yang sering diucapkan oleh orang-orang Batak adalah horas. Horas adalah kata salam masyarakat Batak yang berasal dari daerah Sumatera Utara, khususnya “Tapanuli”, yang selalu diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata horas salam khas yang lain, yaitu mejuah-juah dari daerah Karo, njuah-juah dari daerah Dairi, yahobu dari daerah Nias.

Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah:

·         Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo

·         Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak

·         Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun

·         Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing

4. Organisasi Sosial 

·         Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Batak adalah patrilineal, yaitu menurut garis keturunan ayah. Dalam berhubungan antara yang satu dengan yang lain pada masyarakat Batak, mereka harus mampu menempatkan dirinya dalam struktur itu sehingga mereka selalu dapat mencari kemungkinan hubungan kekerabatan di antara sesamanya dengan cara martutur. Hubungan antara satu marga dengan marga lainnya sangat erat, setelah terjadinya beberapa kelompok kecil yang diakibatkan sebuah perkawinan.

·         Tarombo/Silsilah
Tarombo atau silsilah adalah marga dalam masyarakat Batak. Tarombo adalah daftar asal-usul suatu keluarga). Dalam hal ini, hampir semua marga Batak telah mempunyai tarombo secara tertulis, di dalamnya tercatat semua keturunan marga yang bersangkutan. Kalaupun belum ada tarombo tertulis, setidaknya semua keluarga dapat mengetahui nama nenek moyangnya turun temurun, kepada dirinya sendiri. Orang Batak menggunakan kata marga untuk menunjukkan, baik satuan-satuan yang lebih kecil maupun yang lebih besar, juga kelompok-kelompok yang paling besar.

5. Pakaian dan Perhiasan

Sistem teknologi terdapat dalam sastra lisan walaupun tidak terlalu menonjol. sistem teknologi pada zaman dulu sudah ada, misalnya pakaian yang sudah berwarna. Pakaian dalam arti seluas-luasnya juga merupakan suatu benda kebudayaan yang sangat penting bagi untuk semua suku bangsa di dunia. Bahan mentah pakaian dapat dikelaskan ke dalam : pakaian dari bahan tenun, pakaian dari kulit pohon dan pakaian dari kulit binatang dan lain-lain.

Asesoris bagi kaum perempuan Batak, benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang adalah symbol identitas budaya masyarakat Batak, di samping difungsikan sebagai benda untuk memepercantik kaum perempuan. Dalam bidang teknologi tradisional masyarakat Batak lainnya dalam benda budaya yang berupa pakaian tenun, meskipun produk itu masih sederhana.

6. Kesenian

Seni pada masyarakat Batak umumnya meliputi, seni sastra, seni musik, seni tari, seni bangunan, seni patung, dan seni kerajinan tangan. Terdapat beberapa seni masyarakat Batak, antara lain :

·         Margondang
Upacara margondang diadakan untuk menyambut kelahiran anak mereka dan sekaligus mengumumkan kepada warga kampung bahwa dia sudah mempunyai anak. Margondang merupakan suatu kebiasaan masyarakat Batak yang dilakukan dalam suatu upacara tertentu. Tujuan filosofinya adalah untuk mengukuhkan muatan religi acara tersebut karena merupakan kebiasaan yang diwarisi dari leluhur.

·         Manortor
Tortor adalah tarian Batak yang selalu diiringi dengan gondang(gendang). Tortor pada dasarnya adalah ibadat keagamaan dan bersifat sakral,bukan semata-mata seni.

·         Seni Patung
Di daerah Batak peninggalan-peninggalan kebudayaan megalitik sampai saat ini masih banyak dijumpai, misalnya batu berdiri (menhir) dan batu-batu yang disusun berupa mejan batu (dolmen) terletak dekat batu-batu kecil (kursi) yang dipakai sebagai tempat pertemuan seperti di Ambarita (Samosir), dan Sarcophagusatau keranda. Kursi batu menurut kepercayaan masyarakat, pada waktu itu adalah tempat para arwah leluhur mereka, sebab ada penghormatan kepada leluhur, oleh sebab itu mereka berhak duduk pada kursi-kursi tersebut.

7. Sistem pengetahuan 

Sistem pengtahuan masyarakat Batak tampak pada perubahan-perubahan musim yang diakibatkan oleh siklus alam, misalnya musim hujan dan musim kemarau. Perubahan dua jenis musim tersebut dipelajari masyarakat Batak sebagai pengetahuan untuk keperluan bercocok tanam.

Suku Batak juga menguasai konsep pengetahuan yang berkaitan dengan jenis tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Pengetahuan tersebut sangat penting artinya dalam membantu memudahkan hidup mereka sehari-hari, seperti makan, minum, tidur, pengobatan, dan sebagainya. Jenis tumbuhan bambu misalnya dimanfaatkan suku masyarakat Batak untuk membuat tabung air, ranting-ranting kayu menjadi kayu bakar, sejenis batang kayu dimanfaatkan untuk membuat lesung dan alu, yang kegunaannya untuk menumbuk padi.

8. Mata Pencaharian 

Sistem ekonomi atau sistem mata pencaharian yang dilakukan masyarakat Batak adalah bercocok tanam di sawah, ada juga yang di ladang seperti suku bangsa Karo, Simalungun, dan Pakpak. Masyarakat Batak mengenal sistem gotong-royong dalam bertani, dalam bahasa Karo disebut raren, sedangkan dalam bahasa Toba disebut marsiurupan. Gotong royong dilakukan dengan mengerjakan tanah secara bersama-sama oleh tetangga atau kerabat dekat. Alat yang digunakan untuk bercocok tanam, antara lain cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo, luku dalam bahasa Toba), dan tongkat tugal (engkol dalam bahasa Karo). 

Bajak biasanya ditarik dengan sapi/kerbau, sabit (sabi-sabi dalam bahasa Toba) dipakai untuk memotong padi, ada juga yang memakai ani-ani. Peternakan yang diusahakan oleh masyarakat Batak, seperti kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Babi biasanya untuk dimakan dan juga digunakan dalam upacara adat. Di Pulau Samosir tepi Danau Toba, menangkap ikan dilakukan intensif dengan perahu lesung (Solu) dan hasilnya dijual ke kota.

Sejarah Suku Batak

Suku Batak ialah kelompok etnis tua di nusantara. Akan tetapi, karena keterbatasan catatan dan literatur menjadikan sejarahnya sulit untuk ditelusuri. Belum diketahui secara pasti kapan pertama kali nenek moyang orang Batak mulai mendiami wilayah Sumatera bagian Timur, yaitu Tapanuli.

sejarah suku batak

Namun beberapa bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang Taiwan telah pindah ke Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun yang lalu, tepatnya pada zaman Neolitikum atau zaman batu muda. Akan tetapi karena tidak ada bukti yang ditemukan tentang keberadaan Suku Batak dari masa tersebut, maka disimpulkan bahwa nenek moyang Suku Batak datang dan pindah ke Tapanuli pada masa setelah itu, yaitu pada masa logam.

Sulitnya mencari bukti sejarah maka hingga kini masih ada perdebatan mengenai asal usul Suku Batak. Kemungkinan besar leluhur suku Batak berasal dari Pulau Formosa di Taiwan, namun bisa juga dari kawasan Indochina, Mongolia, atau Mizoram.

Mulai Dikenalnya Suku Batak di Nusantara

Etnis Batak merupakan gabungan dari beberapa suku yang ada di Sumatera Utara, identitas masyarakat asli setempat sebagai Suku Batak baru dikenal setelah tahun 1926, yaitu setelah dibentuknya organisasi bernama Jong Batak.

Organisasi ini merupakan kumpulan para pemuda asal Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak. Jong Batak dibentuk tanpa membeda-bedakan agama yang dianut.

Sebelumnya itu, di Sumatera Utara tidak terdapat sebuah kesatuan suku seperti ini. Hingga abad ke-19 hubungan yang terjalin antar sesama lebih kepada hubungan antar individu, serta ada pula hubungan antar kampung dan antar kekerabatan.

Masyarakatnya belum merasa perlu untuk terikat secara kelompok yang lebih besar. Banyak orang berasumsi, pendudukan kolonial di nusantara adalah alasan yang membuat masyarakat Sumatera Utara lebih memiliki rasa dan keinginan untuk bersatu.

Oleh karena itu, sangat menakjubkan bahwa saat ini Suku Batak dikenal sebagai salah satu etnis bangsa yang sangat kuat dan terjalin ikatan erat antara satu dengan yang lain.

Kepercayaan Suku Batak

Saat ini, mayoritas Suku Batak memeluk agama Kristen Protestan. Namun jauh sebelum mereka mengenal agama ini, orang-orang Batak menganut sistem kepercayaan tradisional. Mereka memiliki sosok yang dianggap sebagai dewa tertinggi, bernama Mulajadi na Bolon.

suku batak

Dari kepercayaan tersebut, kemudian dikenal 3 konsep, yaitu:

1. Tendi

Tendi atau disebut dengan Tondi adalah roh atau jiwa seseorang bermakna kekuatan. Tendi memberi kekuatan pada manusia dan telah dimiliki seseorang sejak di dalam kandungan sang ibu. Jika Tendi meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut akan meninggal. Saat itulah harus diadakan upacara untuk menjemput Tendi atau upacara adat menjemput jiwa.

2. Sahala

Sahala adalah bentuk kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi tidak semua orang bisa memiliki Sahala. Sahal juga disebut dengan nama lain Sumanta. Sumanta merupakan kesaktian yang biasanya dimiliki oleh raja.

3. Begu

Begu adalah jiwa atau Tendi orang yang telah meninggal. Masyarakat Batak percaya bahwa Begu mempunyai tingkah laku dan kebiasaan seperti manusia, tetapi hanya muncul di malam hari.

Falsafah Hidup Orang Batak

Setiap suku pasti memiliki falsafah atau pandangan hidup untuk mengontrol perilaku setiap masyarakatnya agar tercipta sistem sosial yang baik. Sama halnya dengan etnis Batak, mereka dikenal memiliki beberapa nilai budaya, antara lain:

1. Hagabeon

Hagabeon bermakna harapan memiliki keturunan yang baik dan panjang umur. Jika berumur panjang, maka seseorang dapat menikahkan anak cucu mereka, sehingga bisa menyaksikan langsung anak cucunya tumbuh dan hidup dengan baik. Bagi Suku Batak memperoleh keturunan adalah keberhasilan dalam pernikahan.

Anak laki-laki dianggap sangat istimewa. Dalam adat kuno Batak bahkan ada aturan untuk memiliki anak sebanyak 33 dengan anak laki-laki berjumlah 17 orang dan anak perempuan sebanyak 16 orang. Namun seiring dengan perkembangan jaman, aturan ini pun tidak dipergunakan lagi.

Memiliki anak saat ini bukan tergantung dari kuantitas, namun kualitas. Memberikan pendidikan dan keterampilan yang baik pada anak dianggap lebih penting.

2. Uhum dan Ugari

Uhum berarti hukum, sementara Ugari berarti kebiasaan. Bagi masyarakat Batak, hukum harus ditegakkan dengan adil. Keadilan dapat terwujud jika masyarakat melakukan kebiasaan untuk tetap setia memegang janji.

Jika mengingkari sebuah kesepakatan, sesuai adat Batak di masa lalu maka orang tersebut akan menerima sanksi adat. Orang yang melanggar kesepakatan akan dianggap tercela. Oleh karena itu, Uhum dan Ugari sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak.

3. Hamoraon

Hamoraon adalah nilai budaya yang bermakna kehormatan. Kehormatan yang dimaksud adalah keseimbangan antara materiil dan spiritual. Seseorang harus memiliki kedua hal tersebut, misalnya kekayaan dan sikap baik hati terhadap sesama, barulah seseorang dianggap memiliki kehormatan yang sempurna. Jika hanya salah satu, maka tidak lengkap dan belum mencapai Hamoraan.

4. Pengayoman

Pengayoman mempunyai makna sebagai pelindung atau pengayom. Falsafah hidup pengayoman mengajarkan agar setiap individu bisa menjadi pengayom bagi orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat Batak diajarkan untuk tidak bergantung pada orang lain. Nilai ini mengajarkan bahwa orang Batak agar hidup mandiri dan tidak selalu mengandalkan orang lain.

5. Marsisarian

Marsisarian adalah nilai untuk menjaga keseimbangan hubungan antar manusia. Setiap manusia adalah individu yang berbeda, maka dalam kehidupan bermasyarakat, nilai Marsisarian sangat diperlukan agar umat manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis, meski terdapat banyak perbedaan di antara mereka.

Nilai Marsisarian mengajarkan masyarakat Batak untuk saling membantu, mengerti, dan menghargai. Dengan begitu maka mereka akan menghormati antar sesam, sehingga konflik pun dapat dihindari.

6. Kekerabatan

Nilai yang terakhir adalah salah satu ciri khas Suku Batak yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Saat ini, kita bisa melihat kekerabatan yang baik antar sub suku masyarakat Batak. Hubungan kekerabatan yang baik dapat diwujudkan melalui 3 hal, yaitu pertalian keluarga melalui pernikahan, tutur kata yang baik antar sesama, dan Martarombo.

Martarombo bermakna mencari saudara. Hal tersebut khususnya berlaku bagi Suku Batak yang sedang merantau. Biasanya mereka akan mencari sesama Suku Batak atau yang memiliki warga sama di tempat rantaunya. Tujuannya adalah agar tejalin hubungan antar marga yang baik walaupun mereka berada di perantauan.

Tradisi Suku Batak

Suku Batak memiliki banyak tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya. Tradisi budaya Batak yang tetap dilestarikan hingga kini antara lain:

orang batak

1. Merantau

Tidak hanya menjadi kebiasaan masyarakat Suku Minangkabau, tradisi merantau juga dilakukan oleh Suku Batak. Merantau umumnya dilakukan oleh kaum pria yang hendak menginjak usia dewasa.

Para pria diharuskan meninggalkan tempat asalnya dan belajar bekerja serta hidup mandiri di tempat yang baru. Bahkan di masa lalu, mereka tidak diperbolehkan pulang sebelum sukses dan mengumpulkan banyak harta.

2. Kenduri Laut

Seusai dengan namanya, tradisi ini dilakukan di tepi laut. Biasanya dilakukan setiap bulan Oktober setiap tahunnya. Makna kenduri laut adalah sebagai ungkapan syukur akan hasil panen yang telah mereka dapatkan selama 1 tahun. Kenduri ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Batak di daerah Tapanuli Tengah pada malam hari hingga siang hari.

Marga Suku Batak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Suku Batak adalah salah satu suku bangsa terbesar dengan penyebaran terluas di Indonesia.

Seperti yang telah dibahas di awal, ada enam rumpun Suku Batak, yaitu Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Setiap rumpun suku tersebut terbagi menjadi beberapa marga yang menjadi identitas dan eksistensi dalam adat istiadat masyarakat Suku Batak.

Marga tersebut biasanya disematkan di belakang nama orang keturunan Batak. Berdasarkan data yang terhimpun, setidaknya ada 479 marga Batak yang telah tercatat, antara lain:

A

1. AMBARITA

2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)

3. AMPUN (NAHAMPUNGAN)

4. ANGKAT

5. ANGKAT SINGKAPAL

6. ARITONANG

7. ARUAN


B

8. BABIAT

9. BAHO (NAIBAHO)

10. BAKO

11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)

12. BANJARNAHOR (MARBUN)

13. BANCIN

14. BAKKARA

15. BARINGBING (TAMPUBOLON)

16. BARUARA (TAMBUNAN)

17. BARUTU (SITUMORANG)

18. BARUTU (SINAGA)

19. BATUARA (NAINGGOLAN)

20. BATUBARA

21. BERASA

22. BARAMPU

23. BARINGIN

24. BINJORI

25. BINTANG

26. BOANGMANALU

27. BOLIALA

28. BONDAR

29. BORBOR

30. BUATON

31. BUNUREA (BANUAREA)

32. BUNJORI

33. BUTARBUTAR


D

34. DABUTAR (SIDABUTAR)

35. DAIRI (SIMANULLANG)

36. DAIRI (SINAMBELA)

37. DALIMUNTA (MUNTE)

38. DAPARI

39. DAULAE

40. DEBATARAJA (SIMAMORA)

41. DEBATARAJA (RAMBE)

42. DOLOKSARIBU

43. DONGORAN

44. DOSI (PARDOSI)


G

45. GAJAA

46. GAJADIRI

47. GAJAMANIK

48. GIRSANG

49. GORAT

50. GULTOM

51. GURNING

52. GUSAR


H

53. HABEAHAN

54. HARAHAP

55. HARIANJA

56. HARO

57. HAROHARO

58. HASIBUAN

59. HASUGIAN

60. HUTABALIAN

61. HUTABARAT

62. HUTAJULU

63. HUTAGALUNG

64. HUTAGAOL (LONTUNG)

65. HUTAGAOL (SUMBA)

66. HUTAHAEAN

67. HUTAPEA

68. HUTASOIT

69. HUTASUHUT

70. HUTATORUAN

71. HUTAURUK


K

72. KASOGIHAN

73. KUDADIRI


L

74. LAMBE

75. LIMBONG

76. LINGGA

77. LONTUNG

78. LUBIS

79. LUBIS HATONOPAN

80. LUBIS SINGASORO

81. LUMBANBATU

82. LUMBANDOLOK

83. LUMBANGAOL (MARBUN)

84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN)

85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)

86. LUMBANPANDE (SITUMORANG)

87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN)

88. LUMBANPEA (TAMBUNAN)

89. LUMBANRAJA

90. LUMBAN SIANTAR

91. LUMBANTOBING

92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)

93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING)

94. LUMBANTUNGKUP


M

95. MAHA

96. MAHABUNGA

97. MAHARAJA

98. MALAU

99. MALIAM

100. MANALU (TOGA SIMAMORA)

101. MANALU-RAMBE

102. MANALU (BOANG)

103. MANIK

104. MANIK URUK

105. MANURUNG

106. MARBUN

107. MARBUN SEHUN

108. MARDOSI

109. MARPAUNG

110. MARTUMPU

111. MATANIARI

112. MATONDANG

113. MEHA

114. MEKAMEKA

115. MISMIS

116. MUKUR

117. MUNGKUR

118. MUNTE (NAIMUNTE ?)


N

119. NABABAN

120. NABUNGKE

121. NADAPDAP

122. NADEAK

123. NAHAMPUN

124. NAHULAE

125. NAIBAHO

126. NAIBORHU

127. NAIMUNTE

128. NAIPOSPOS

129. NAINGGOLAN

130. NAPITU

131. NAPITUPULU

132. NASUTION

133. NASUTION BOTOTAN

134. NASUTION LONCAT

135. NASUTION TANGGA AMBENG

136. NASUTION SIMANGGINTIR

137. NASUTION MANGGIS

138. NASUTION JORING


O

139. OMPUSUNGGU

140. OMPU MANUNGKOLLANGIT


P

141. PADANG (SITUMORANG0

142. PADANG (BATANGHARI0

143. PANGARAJI (TAMBUNAN)

144. PAKPAHAN

145. PAMAN

146. PANDEURUK

147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE

148. PANDIANGAN SITANGGUBANG

149. PANDIANAGN SITURANGKE

150. PANJAITAN

151. PANE

152. PANGARIBUAN

153. PANGGABEAN

154. PANGKAR

155. PAPAGA

156. PARAPAT

157. PARDABUAN

158. PARDEDE

159. PARDOSI-DAIRI

160. PARDOSI (SIAGIAN)

161. PARHUSIP

162. PASARIBU

163. PASE

164. PASI

165. PINAYUNGAN

166. PINARIK

167. PINTUBATU

168. POHAN

169. PORTI

170. POSPOS

171. PULUNGAN

172. PURBA (TOGA SIMAMORA)

173. PURBA (RAMBE)

174. PUSUK


R

175. RAJAGUKGUK

176. RAMBE-PURBA

177. RAMBE-MANALU

178. RAMBE-DEBATARAJA

179. RANGKUTI-DANO

180. RANGKUTI-PANE

181. REA

182. RIMOBUNGA

183. RITONGA

184. RUMAHOMBAR

185. RUMAHORBO

186. RUMAPEA

187. RUMASINGAP

188. RUMASONDI


S

189. SAGALA

190. SAGALA-BANGUNREA

191. SAGALA-HUTABAGAS

192. SAGALA HUTAURAT

193. SAING

194. SAMBO

195. SAMOSIR

196. SAPA

197. SARAGI (SAMOSIR)

198. SARAGIH (SIMALUNGUN)

199. SARAAN (SERAAN)

200. SARUKSUK

201. SARUMPAET

202. SEUN (SEHUN)

203. SIADARI

204. SIAGIAN (SIREGAR)

205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)

206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)

207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)

208. SIAHAAN HINALANG

209. SIAHAAN BALIGE

210. SIAHAAN LUMBANGORAT

211. SIAHAAN TARABUNGA

212. SIAHAAN SIBUNTUON

213. SIALLAGAN

214. SIAMPAPAGA

215. SIANIPAR

216. SIANTURI

217. SIBANGEBENGE

218. SIBARANI

219. SIBARINGBING

220. SIBORO

221. SIBORUTOROP

222. SIBUEA

223. SIBURIAN

224. SIDABALOK

225. SIDABANG

226. SINABANG

227. SIDEBANG

228. SIDABARIBA

229. SINABARIBA

230. SIDABUNGKE

231. SIDABUTAR (SARAGI)

232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)

233. SIDAHAPINTU

234. SIDARI

235. SIDAURUK

236. SIJABAT

237. SIGALINGGING

238. SIGIRO

239. SIHALOHO

240. SIHITE

241. SIHOMBING

242. SIHOTANG

243. SIKETANG

244. SIJABAT

245. SILABAN

246. SILAE

247. SILAEN

248. SILALAHI

249. SILALI

250. SILEANG

251. SILITONGA

252. SILO

253. SIMAIBANG

254. SIMALANGO

255. SIMAMORA

256. SIMANDALAHI

257. SIMANJORANG

258. SIMANJUNTAK

259. SIMANGUNSONG

260. SIMANIHURUK

261. SIMANULLANG

262. SIMANUNGKALIT

263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)

264. SIMAREMARE

265. SIMARGOLANG

266. SIMARMATA

267. SIMARSOIT

268. SIMATUPANG

269. SIMBIRING-MEHA

270. SEMBIRING-MELIALA

271. SIMBOLON

272. SINABANG

273. SINABARIBA

274. SINAGA

275. SIBAGARIANG

276. SINAMBELA-HUMBANG

277. SINAMBELA DAIRI

278. SINAMO

279. SINGKAPAL

280. SINURAT

281. SIPAHUTAR

282. SIPAYUNG

283. SIPANGKAR

284. SIPANGPANG

285. SIPARDABUAN

286. SIRAIT

287. SIRANDOS

288. SIREGAR

289. SIRINGKIRON

290. SIRINGORINGO

291. SIRUMAPEA

292. SIRUMASONDI

293. SITANGGANG

294. SITANGGUBANG

295. SITARIHORAN

296. SITINDAON

297. SITINJAK

298. SITIO

299. SITOGATOROP

300. SITOHANG URUK

301. SITOHANG TONGATONGA

302. SITOHANG TORUAN

303. SITOMPUL

304. SITORANG (SITUMORANG)

305. SITORBANDOLOK

306. SITORUS

307. SITUMEANG

308. SITUMORANG-LUMBANPANDE

309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR

310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA

311. SITUMORANG-SIRINGORINGO

312. SITUMORANG-SITOHANG URUK

313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA

314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN

315. SITUNGKIR

316. SITURANGKE

317. SOBU

318. SOLIA

319. SOLIN

320. SORGANIMUSU

321. SORMIN

322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG

323. SUHUTNIHUTA-SINAGA

324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN

325. SUMBA

326. SUNGE

327. SUNGGU


T

328. TAMBA

329. TAMBAK

330. TAMBUNAN BARUARA

331. TAMBUNAN LUMBANGAOL

332. TAMBUNAN LUMPANPEA

333. TAMBUNAN PAGARAJI

334. TAMBUNAN SUNGE

335. TAMPUBOLON

336. TAMPUBOLON BARIMBING

337. TAMPUBOLON SILAEN

338. TAKKAR

339. TANJUNG

340. TARIHORAN

341. TENDANG

342. TINAMBUNAN

343. TINENDUNG

344. TOGATOROP

345. TOMOK

346. TORBANDOLOK

347. TUMANGGOR

348. TURNIP

349. TURUTAN


Tj (C)

350. TJAPA (CAPA)

351. TJAMBO (CAMBO)

352. TJIBERO (CIBERO)


U

353. UJUNG-RIMOBUNGA

354. UJUNG-SARIBU


KAROKARO

355. KAROKARO BARUS

356. KAROKARO BUKIT

357. KAROKARO GURUSINGA

358. KAROKARO JUNG

359. KAROKARO KALOKO

360. KAROKARO KACARIBU

361. KAR0KARO KESOGIHAN

362. KAROKARO KETAREN

363. KAROKARO KODADIRI

364. KAROKARO PURBA

365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)

366. KAROKARO SEKALI

367. KAROKARO SIKEMIT

368. KAROKARO SINABULAN

369. KAROKARO SINUAJI

370. KAROKARO SINUKABAN

371. KAROKARO SINULINGGA

372. KAROKARO SIMURA

373. KAROKARO SITEPU

374. KAROKARO SURBAKTI


TARIGAN

375. TARIGAN BANDANG

376. TARIGAN GANAGANA

377. TARIGAN GERNENG

378. TARIGAN GIRSANG

379. TARIGAN JAMPANG

380. TARIGAN PURBA

381. TARIGAN SILANGIT

382. TARIGAN TAMBAK

383. TARIGAN TAMBUN

384. TARIGAN TAGUR

385. TARIGAN TUA

386. TARIGAN CIBERO


PERANGINANGIN

387. PERANGINANGIN-BENJERANG

388. PERANGINANGIN BANGUN

389. PERANGINANGIN KABAK

390. PERANGINANGIN KACINABU

391. PERANGINANGIN KELIAT

392. PERANGINANGIN LAKSA

393. PERANGINANGIN MANO

394. PERANGINANGIN NAMOHAJI

395. PERANGINANGIN PANGGARUN

396. PERANGINANGIN PENCAWAN

397. PERANGINANGIN PARBESI

398. PERANGINANGIN PERASIH

399. PERANGINANGIN PINEM

400. PERANGINANGIN SINUBAYANG

401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM

402. PERANGINANGIN SINURAT

403. PERANGINANGIN SUKATENDE

404. PERANGINANGIN ULUJANDI

405. PERANGINANGIN UWIR


GINTING

406. GINTING BAHO

407. GINTING BERAS

408. GINTING GURUPATIH

409. GINTING JADIBATA

410. GINTING JAWAK

411. GINTING MANIK

412. GINTING MUNTE

413. GINTING PASE

414. GINTING SIGARAMATA

415. GINTING SARAGIH

416. GINTING SINUSINGA

417. GINTING SUGIHEN

418. GINTING SINUSUKA

419. GINTING TUMANGGER

420. GINTING CAPA


SEMBIRING

421. SEMBIRING-BRAHMANA

422. SEMBIRING BUNUHAJI

423. SEMBIRING BUSUK (PU)

424. SEMBIRING DEPARI

425. SEMBIRING GALUK

426. SEMBIRING GURU KINAYA

427. SEMBIRING KELING

428. SEMBIRING KELOKO

429. SEMBIRING KEMBAREN

430. SEMBIRING MELIALA

431. SEMBIRING MUHAM

432. SEMBIRING PANDEBAYANG

433. SEMBIRING PANDIA

434. SEMBIRING PELAWI

435. SEMBIRING SINULAKI

436. SEMBIRING SINUPAYUNG

437. SEMBIRING SINUKAPAR

438. SEMBIRING TAKANG

439. SEMBIRING SOLIA


SINAGA

440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN

441. SINAGA NADIHAYANGBODAT

442. SINAGA SIDABARIBA

443. SINAGA SIDAGURGUR

444. SINAGA SIDAHAPINTU

445. SINAGA SIDAHASUHUT

446. SINAGA SIALLAGAN

447. SINAGA PORTI


DAMANIK

448. DAMANIK-AMBARITA

449. DAMANIK BARIBA

450. DAMANIK GURNING

451. DAMANIK MALAU

452. DAMANIK TOMOK


SARAGI

453. SARAGIH-DJAWAK

454. SARAGIH DAMUNTE

455. SARAGIH DASALAK

456. SARAGIH GARINGGING

457. SARAGIH SIMARMATA

458. SARAGIH SITANGGANG

459. SARAGIH SUMBAYAK

460. SARAGIH TURNIP


PURBA

461. PURBA BAWANG

462. PURBA DAGAMBIR

463. PURBA DASUHA

464. PURBA GIRSANG

465. PURBA PAKPAK

466. PURBA SIIDADOLOK

467. PURBA TAMBAK


HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK

468. BARAT (SIAN HUTABARAT)

469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING)

470. BULUARA (MARINGANAN DI SINGKIL)

471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL)

472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)

473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN

474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING)

475. MELAYU (MARINGAN DI SINGKEL) SIAN MALAU

476. NASUTION

477. PALIS (MARINGAN DI SINGKILDOLOK)

478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)

479. RANGKUTI

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A DAT DAN BUDAYA BATAK Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang mempertahankan kebudayaannya. Mereka memegang teguh tradisi da...